kala bayang
Februari 13, 2007keakraban kita dulu alangkah
tanpa batas. keakraban yang kita pintal dulu
alangkah seumpama rama-rama yang bebas
sungguh seumpama rama-rama dan
musim bunga, musim bunga dan
rama-rama, dan bunga-bunga…*

cantik, masih ingat kamu dengan semua percakapan kita? hari ini, aku membaca ulang semua bincang kita. entah kenapa, aku kangen banget sama kamu, dan aku malu. ini kejadian yang langka; aku kembali ke muasalku, mengedepankan rasa, bertungku dan hangat dengannya.
membaca ulang ucap-riang itu, senyum dan rasa bahagia mendatangiku lagi. aku takjub pada kebersamaan kita dulu –alir cerita yang dahsyat, alur yang begitu lena, pembagian tawa dan luka yang mahasempurna– yang kini, aduh, entah kemana? aku takjub dengan keberanianku dulu, yang demikian nyaman mengungkapkan betapa aku kangen kamu, sayang kamu, dan ingin –suatu waktu– menikmati malam dan hujan denganmu. aku takjub dengan magnit dan segala suasana, yang membuatku terhubung denganmu, salut dengan diriku yang begitu ikhlas terbuai dengan rasa itu, tanpa takut kehilangan apa pun dari harap yang jelas tak bersandar pada sebuah nisbat tentang kebersatuan.
kukira, dulu, aku jatuh cinta padamu. sekarang, aku tahu, aku memang pernah mencintaimu. dan mungkin akan mencintaimu lagi, jika kau satukan ruang-waktu untuk kembali menyapaku.
ah, sudahlah. aku menyapamu, hanya mengabarkan, betapa aku memutar ulang kembali apa pun tentang kita; semuanya, tanpa sisa, memamahnya, mencoba mengerti, mencari lagi, semoga magnit itu, masih memberi kesempatan untuk menautkan kita, membuat kenangan yang lebih banyak, lebih panjang, lebih melenakan, lebih ngalir, meski tak kita bebankan pada tujuan.
aku mengenangmu, cantik: mengenangmu, sama seperti ketika kali pertama kita berbaku sapa, kala aku membayangkan kamu, dalam bingkai yang tak tercemari apa pun, sampai kini.
maafkan, jika kekangenan ini, sekarang, mengganggumu.
*) dikutip dari ingatan pasase pertama dari novel segi empat patah sisi
rahim kemarau
Agustus 3, 2006kulupakan hari-hari yang lewat
agar aku dapat hidup kembali di hari ini
kubuang puing waktu ke kuburannya yang paling rahasia
barangkali serahasia mimpi
yang ada kemudian hanyalah kesamaran
semakin samar
dan… hilang*

tapi dia tidak sepenuhnya hilang. gerimis yang tiba-tiba merintih pagi ini, yang lahir dari rahim kemarau, datang seperti sapa, memintaku mengingatnya. kepedihan, entah kenapa, selalu punya jalan untuk tetap bertandang.
“ia, aku senang kok sempat jadi hujanmu. makasih juga telah dibuatkan tulisan seperti itu.”
aku hanya bisa menulis, debar. dengan itulah aku mengobati semuanya. membuat yang “sempat” bisa jadi abadi, yang sementara dapat bertahan masa. siapa tahu, tulisanku dapat membuat hujan mau tercurah selamanya.
“hujan akan selalu ada, ia. meski bukan aku lagi. bukan aku lagi…”
******
“kamu bisa ikhlas kan, ia?”
bukan bisa. tapi harus, debar. hanya dengan ikhlas aku bisa menerima apa pun yang terjadi sebagai jalan yang mesti dilalui. menyadari diri hanya lintasan-lintasan dari apa pun. jika yang memintas itu mau berlabuh, menetap, atau hanya lewat, semua sudah ada garisnya. semua harus berjalan…
“iya ya, bener banget.”
setiap sahabat adalah rahmat. setiap rahmat adalah harap, debar…
“dan setiap harap pasti berjawab, kan?”
dan harap itu cintaku, tidak bicara tentang keabadian, tapi kebersaatan, keterkejutan, nikmat kejap, syukur dalam keterbatasan.
“bagaimana syukur dalam keterbatasan, ya?”
iya, dengan meyakini, memang kebersaatan itulah yang menjadi hakku. singgahmu yang sebentar itulah milikku. aku tak boleh berharap lebih. aku harus mampu berterimakasih dengan meski….
*******
alam memang contoh terbaik dari keajaiban. jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata. pelan-pelan, aku patrikan hal itu di benakku. aku ikhlaskan dia pergi, tanpa sesal, tanpa pedih. aku kenang semuanya dengan tawa, ucap syukur, dan rasa lega, seperti keleluasaan rasa yang hinggap saat pertamakali kukecup matanya.
berjalanlah, kasih. aku tak memberatimu lagi. karena seperti katamu, engkau tetap akan pergi, kini atau nanti. bergeraklah, raihlah kegembiraanmu. yakinlah, dari tiap sujud sempurnaku, akan tetap lahir doa-doa terbaik tempaan ribuan tahun, yang memanteraimu, menjagamu, agar tetap bahagia, seperti saat sebelum engkau denganku berjumpa. bergegaslah….
*) dikutip dari ingatan, satu pasase dalam novel segi empat patah kaki
maafkan aku
Juli 24, 2006debar jantungku, telah kuikhlaskan engkau pergi. pergilah…
tapi, sebelum langkahmu menjauh, tolong maafkan kesalahanku. kau ingat, betapa dulu begitu susah aku menyebutkan namamu. tiga kata saja, dan begitu repot kuhapal urutannya. sungguh, aku tak tahu kenapa bisa begitu. namun percayalah, seterbalik apa pun aku menyapamu, di benakku kamu tetap indah. dengan kata apa pun lidahku menjeritkanmu, kaulah itu. ya, kamu.
aku juga sering salah mengenali suaramu, maafkanlah. kau tentu tahu, selalu kusapa mesra setiap kali operator telepon kantormu menghubungiku. kukira itu kamu, selalu kamu. sebenarnya, bukan hanya operator kantormu, nyaris setiap suara kukira kamu. terutama di hari-hari kangenku.
debar, aku bukan tak kenal warna suaramu. begitu terjajah gendang telingaku, sehingga membuat setiap gema selalu kukenali sebagai kamu. kini, setiap suara harus kusaring dua-tiga kali, sampai aku yakin, itu bukan kamu.
maafkan juga, aku yang sering menghubungimu tiba-tiba, hanya untuk mengatakan, “aku kangen kamu, kangen kamu…” percayalah, sebelum mengatakan itu, telah habis tenagaku untuk menahan gempurannya. aku kalah. jadilah, di saat-saat yang barangkali tidak kamu sangka, aku mengucapkannya. kini kusadari, betapa hal itu pasti membuatmu jengah, malu pada sekitarmu. sehingga, selalu kamu berbisik, “aku tahu, ia. aku tahu…” ucapan yang pasti membuat semua gemuruh di dadaku punah. gempa yang kehilangan tenaga.
yang utama, maafkanlah aku di pertemuan itu, karena kubiarkan waktu berjalan dalam diam. dan hanya kunikmati kamu bermain dengan ponsel, tanpa ada usaha untuk menarikmu masuk dalam arusku. tak kututupi pandanganmu yang “berjalan” pada lelaki di luarku. kubiarkan kamu bercerita tentang semuanya, tapi bukan tentang kita.
debar, aku sudah bahagia bisa bersama kamu. melihatmu, merasakan keras napasmu, melihat kau nyata, seperti keringatmu yang kuseka tanpa sengaja di punggung tanganmu. seluruh sketsa tubuhmu, yang semula hanya permainan bayang di benakku, adalah keajaiban. keajaiban itu pula yang membuatku tidak bisa melakukan apa pun, kecuali membebaskanmu, meluaskan pandanganmu. saat itu, kamulah yang memenuhi duniaku. jadi, bagaimana mungkin aku dapat menarikkanmu ke garis edarku?
aku juga pernah membuat kamu marah. ahh-, terlalu sering bahkan. ketika engkau cemas, aku seperti meringankan ketakutanmu. ketika kamu ingin berbagi, aku seperti berlari. ketika kamu menangis, aku malah memberi lelucon basi. ketika kamu cemburu, aku tak tahu. ketika aku cemburu, aku memaksamu tahu. maafkahlah semua itu… tak ada alasan pembenaran apa pun atas kebodohan itu. yang aku tahu, aku menyayangimu.
debar…, banyak sekali kebodohanku. menilasi semua kesalahan itu, aku insyaf, kamu telah menghipnotisku. dalam ketaksadaran atas pesonamu itulah aku berani mendekatkan garis takdirku, menjajarimu. kumimpikan, suatu waktu, garis itu akan menyilang, bersinggungan, nasib kita bertemu. nyatanya, kamu bergerak lebih lekas, terlepas. jadi, jika memang kau harus pergi, pergilah…. karena aku tak akan mampu menahanmu. cuma, jangan paksa aku melupakanmu. karena dengan mengingatmulah aku merasa, ada satu fase dalam hidupku yang demikian bermutu.
pergi, pergilah, debaranku. maafkan, jika aku akan tetap menjeritkanmu. karena kalau kau debar jantungku, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup tanpamu.
hujan itu indah
Juli 3, 2006engkaukah yang datang bersama hujan ini, ann?
gerimisnya yang rintik membangunkan tidurku. pukul 01.32 dini hari. dan aku seperti mendengar ketukan di pintu belakang, juga guman, “ia, ia… bangun.”

benarkah itu engkau, ann? sungguhkah engkau datang? tapi, gegasku membuka pintu tak menemukan parasmu. hanya dingin yang menyambar, juga lengang. mataku yang mencari, menangkap tirisan air menciprati pinggiran teras, sisi keramik kotor, rumput basah, dan harum tanah. engkau tak ada.
ann, kekasih batinku, kamu di mana?
biasanya, tiap kali hujan, engkau pasti datang. aku merasakan; dingin yang semula bertandang, meredup, lalu hangat merayap. ya ann, aku menandaimu lewat hangat yang menjalari tubuhku. setiap kali tanganku menerima hujan, arus hangat merambati sel darahku. dan jika senja kamu datang, kubugili diriku segera, dan menerima pecahan dirimu menyakiti tubuhku. merasakan jarummu menitiki lembut rongga poriku. sampai aku merasa penuh, penuh…
tapi malam ini, aku merasai dingin. dan kosong. di mana engkau sembunyi, ann? di mana?
****
“datanglah ke sini, ia. hujan di kota ini indah.”
“oh ya? seindah siapa?”
“aku.”
tapi ann, tak kutemukan hujan di sini. hari-hari di kotamu seperti menanam kemarau dalam diriku. kering. keindahan yang kau janjikan, tak dapat kulihat. debu ini ann, menyakitkan. sepi itu ann, melebarkan kemarauku. apakah kau memang ingin aku tandus? tak hanya haus?
“ia, barangkali aku hujan di salah musim.”
tidak sayang, engkaulah hujan yang tak kenal musim. kuinginkan kau begitu. aku bukan kemarau, juga semi, atau salju, yang bisa memanggil atau menampikmu. aku hanya rindu pecahan dirimu mencecah tubuhku, sebagai sapa, sebagai arus dalam darahku. aku butuh kamu lebih dari kemarau di mana pun. jadi sayang, jangan hiraukan musim. datanglah, seperti yang aku pinta. musim hanya membuat jarak. musim hanya menegaskan kedatanganmu sebagai tugas. engkau itu rindu. dan rindu sayang, tak harus menunggu musim, juga waktu. bergegaslah. basahi aku. lumat aku dalam ribuan jarummu. dan kita bergelut dalam tarian purba, seperti ketika norma belum tercipta.
“tidak ia, kita hanya bisa bersisihan. memandang. kita wakafkan saja rindu pada alam. kita tebarkan kangen pada lengang. kita titipkan cinta pada harap. kita ludeskan hasrat pada senyap. aku tak bisa beranjak. waktu mengikatku pada masa lalu. engkau musimku yang kemudian, ia…”
barangkali, aku memang bukan takdirmu.
“aku tak bisa berjalan di dua takdir, ia. tak bisa.”
dan hujan itu akan pergi?
“hujan akan tetap datang.”
dan tetap indah?
“hujan itu akan selalu indah, ia. bagimu, bagiku. karena ada diri kita di dalamnya, yang jatuh serupa garis, mungkin serupa tangis.”
*****
ann kekasih, di mana kamu sembunyi? apakah aku tak harus lagi menanti? katakan padaku, kapan hujan penghabisanmu. biar kuserap pecahan dirimu, kusimpan. agar ketika engkau tak lagi datang, bisa kutumbuhkan hujan di dalam diriku. sehingga, seperti pesanmu, tetap bisa kukatakan: hujan itu indah. hujan itu indah. bahkan, ketika kau tak ada, ketika kamu mulai enggan menyapa. karena hatiku mulai percaya, kamu telah merasa aku adalah musimmu yang salah….
semesta sesal
Maret 28, 2006ann, debar jantungku: pernah kamu merasakan kesenangan dan kepedihan berjalan dalam satu waktu? kalau pernah mengalaminya, kamu akan tahu, hidup ini sungguh-sungguh adil. tak ada yang dia berikan setengah-setengah, selalu semuanya. kini kian kurasakan benar, tak ada yang dianaktirikan oleh kehidupan, semua mendapat asuhan yang sama, susu yang sama. barangkali, cuma kedewasaan saja yang berbeda. karena ketika dewasa, hidup hanya menjaga kita, hanya memelihara, dan dewasa, adalah cara bagaimana mata kita terbuka atas sebagaian slide-slide pengalaman yang hidup berikan. itu saja.
maka, jika kamu pernah merasakan kesedihan dan kegembiraan dalam satu tarikan napas, kamu akan tahu, tak pernah ada yang harus disesali dari rencana takdir. (kamu percaya takdir kan, ann?). dan kamu tak akan pernah merasa menyesal kita pernah bertemu.
ketika aku bertemu kamu, sampai pertemuan kedua dan ketiga, itulah masa ketika kepedihan dan kesenangan bersatu dalam tarikan napas. kesenangan karena aku dapat bertemu kamu, juga kepedihan, karena pertemuan itu berlangsung dalam waktu kesementaraan. kepedihan karena aku jadi tahu betapa “nyatanya” kamu lebih daripada imajiku, dan kesenangan karena pernah merasakan kenyataan itu, walau sesaat. dua-duanya, kepedihan dan kesenangan itu, datang dalam tangan yang sama, diberikan ibu kehidupan, dan aku tak pernah menyesalinya. tak akan pernah menyesalinya. (tapi, aku menangkap matamu membias beda)
ann, jika kamu masih merasa pertemuan itu memberatimu, membuatmu tak nyaman, malam nanti, ketika tidur, baliklah bantalmu. percayalah, jarum waktu akan memutar mundur, dan kita akan kembali “bersama” ketika masih bertelepon dan mengharapkan bisa bertemu. kamu bisa tak datang ke semarang, atau datanglah, tanpa pernah memberitahuku. dan kamu harus terbangun, sesudah itu, untuk melanjutkan hidupmu.
kini, kamu hanya punya ingatan –atau semacam impian– ada dua bulan dari masa depanmu yang telah kamu potong, dan itu akan lebih baik, daripada kamu menjalaninya, dengan semacam semesta sesal.
aku yakin, kamu akan lebih bahagia saat itu….
sisian napas
Maret 20, 2006ann, debar jantungku: aku kangen kamu, malam, subuh, dan siang ini. rasanya gerah sekali menunggu “pemberitahuanmu” kapan kerjamu berakhir. tapi aku cepat tersadarkan, waktu kamu bukan hanya untukku, bukan hanya untuk mendengarkan kebawelanku, atau kangen, yang masih hanya sebatas ucapan, bukan sentuhan apalagi dekap.
sering aku berandai, tentang jarak kita yang jika dekat, tentu engkau selalu luruh kala kudekap. tapi pengandaian, ann: seperti juga kenangan, adalah temali yang menjaraki harapan dan kenyataan, juga masa silam. dan kamu ann, engkau bukan masa silamku, tak akan pernah –semoga tuhan mengizinkan– menjadi masa silamku. kamu kuinginkan menjadi kekinianku,
sisian tarikan napas, yang mengetahui apa pun, di sebalik tawa-tangisku.
ahh-, cukuplah kututup semua kalimat di atas dengan debar-debarku, yang kutak tahu, bagaimana lagi menerjemahkannya padamu.
tangan utara
Maret 8, 2006kian hari, kian sulit aku menemukan jejakmu. peta yang dulu begitu jelas, pelan-pelan mengabur, bahkan menguning, di sudut jendela itu, ditutupi tabir pasir yang kau kirimkan dari jauh. selatan, atau utara, barat dan tenggara, muara arah hatimu dulu, kini tak kuyakini lagi, begitu samar, begitu samar. masihkan jika kulangkahkan kaki ke utara, selatan atau barat, akan menemuimu? ataukah memang dirimu berada di daerah yang tak terpetakan, tak terjangkau oleh angin sehingga kabarmu pun hanya sayup menyampai. atau adalah “daratan” lain yang menahanmu untuk mengirim berita kemari, membetahkanmu, meminjamkan mimpi panjang yang indah, yang lena, membuat lupa, pada “keberseharianmu” dulu.
aku masih selalu di sini, dengan kesabaran sempurna, menunggu sesapu angin membersihkan peta itu, sehingga terang jalan dulu, terbentuk lagi, dan selatan atau utara, barat atau timur, juga tenggara, adalah semesta arah yang berujung pada hatimu.
ah, kapan tanganmu menyentuhku?
kangen
Februari 23, 2006ann, debar jantungku; aku kangen kamu. aku kangen semua kebersamaan kita, hari-hari yang penuh kalimat panjang, riuh canda, penuh tautan keinginan untuk selalu bersama, saling berbagi dan mempermainkan waktu sebagai tali yang memintali kekekalan percakapan kita.
aku kangen tawamu, jerit dan marah manjamu. kangen suaramu yang masih disisai kantuk, juga jeda di antara tawa kita yang acap pecah bersama. kangen suara adek dan mbak yang “melarangmu” bicara keras dan agak jorok, juga kangen membauimu.
kapankah ulangan-ulangan kebersamaan itu bisa menjelma lagi, ann? dan mungkinkah waktu masih memberikan kembali hari-hari terbaik dalam hidupku itu? aku tahu, kamu akan menjawab, tidak. dan jika benar, itu akan menjadi kata terburuk dalam seumur hidupku.
aku kangen kamu, kangen tawamu, yang begitu menggeletarkanku, kangan semua kicaumu, yang meski hanya dua patah kata, tapi selalu mengubah hari-hariku setiap pagi. kangen dengan pertanyaan-pertanyaanmu, yang kadang tak sepenuhnya juga bisa kujawab.
ann, aku kangen kamu, kangen semuanya, semuanya…. semua-muanya!
mimpi
Januari 14, 2006
aku mimpi. kita duduk di apa ya… kurang jelas, tapi yang pasti, kaki kita bertelanjang… dan angin cukup keras meniupi rambutmu. di depan kita hanya hamparan sawah, orang-orangan, dan matahari yang baru bangun
berkaos putih, kamu duduk membelakangiku. aku memelukmu, dan daguku sepenuhnya bersanggakan pundakmu. tanganku melingkari pinggangmu, dan ujung jariku, kamu kunci dalam genggamanmu. kita diam, lama, tak bersuara. aku hanya rasakan wajahku berkali-kali dipukuli kibaran rambutmu. selebihnya, dadaku merasai jantungmu.
lalu, kamu bercerita. bukan, bukan bercerita, tapi bertanya. ya, bertanya tapi minta cerita. ihh, bagaimana menjelaskannya. “ia, ceritakan aku tentang dosa…” [nah, itu kan bertanya tapi minta cerita. iya kan?]
“kenapa ann tanya itu?”
“ia cerita aja… biarkan aku yang bertanya.”
aku tertawa, dan mencium lehermu. [jangan marah, itu cuma mimpi] lalu aku katakan, [ini tidak sama persis, sudah 11 jam dari mimpi itu. seingat aku aja ya?] “dosa itu bagiku ukurannya rasa… kalau aku merasa tak nyaman, –takut, cemas, gugup, sakit– ketika melakukan sesuatu, aku akan menafsirkannya sebagai perbuatan yang berdosa. ukuran dosa itu, bagiku, pribadi sekali. ukuran yang dinilai oleh hatiku. jika aku tidak merasa terbebani, aku tidak mengatakan itu dosa, walaupun mungkin bagi orang lain itu dosa.”
“ia bisa beri contoh…”
“aku telah memberi contoh sebelum mengatakan itu.”
“kapan?”
“tadi”
“yang mana?” dan kau memalingkan wajahmu. kita begitu dekat, mataku dan mataku hanya dua jari.aku pasti akan mencuri cium jika kau tak cepat berpaling, kembali lurus ke matahari yang belum juga meninggi. “yang tadi? yang mana?”
“waktu aku mencium lehermu…”
engkau tercekat, kurasakan itu dari daguku yang sedikit tergetar di pundakmu. lama. lama engkau diam. aku merasakan napas yang agak panjang selain rambutmu yang dipukulkan angin ke wajahku.
“kenapa diam, ann…”
“aku nggak diam ia, aku sedang bertanya… apakah aku juga tidak cemas saat kamu sentuh leherku tadi. aku tidak diam. aku lagi berusaha kembali ke suasana tadi, untuk dapat merasakan keyakinan akan ketidakcemasan itu.”
“kamu bisa?”
“entahlah… aku tidak yakin.”
“aku bisa kok mengembalikanmu ke situasi itu lagi. dan kamu bisa tahu apakah merasa cemas atau gemas.”
“ahh ia… jangan, jang…”
tapi aku tetap menciummu, dan bahumu mengerdik, membuat bibirku kian merapat ke leher, dua inci dari tahi lalat kembarmu. “apa yang ann rasakan?” tanyaku tanpa merenggangkan jarak dari lehernya.
“dadaku ia, dadaku…”
“kenapa?”
“gemuruh…”
“gemuruh? cemas?”
“aku tidak tahu ia, tidak tahu…”
barangkali aku yang cemas, karena tanpa sadar, daguku sudah tak bersandari di pundaknya, terangkat, dan mataku mencuri samping matanya yang masih lurus ke depan. “kamu merasa cemas?” aku bertanya, suaraku menggeletar. ah, kenapa aku yang gugup?
“entahlah ia. barangkali ini cuma gemuruh. gemuruh, dan bukan cemas…”
“ohh…” lega sekali rasanya, dan daguku langsung jatuh kembali, bersanggakan gading pundaknya.
“tapi kenapa ia mengukur dosa dengan cara begitu?” dia kembali berpaling, dan karena daguku masih di pundaknya, palingan itu membuat hidungku menggoresi pipinya. nyaris kupejamkan mata, ketika kuyakin goresan itu akan berhenti di hidungnya. tapi dirimu kembali mengubah arah palingan, dan membuang napas.
“karena hanya dengan cara itu aku bisa merasa nyaman mencintaimu, sayang. hanya dengan ukuran itulah, aku dapat secara pasti tahu keinginan hatiku.”
“hanya dengan cara itu?”
“iya.”
“jadi, ini dosa bukan dalam ukuran yang pasti, ia?”
“apakah ada ukuran yang pasti, sayang? apakah ada yang lebih tahu daripada hati kita sendiri?”
kami lalu dirampas diam. kurasakan jemarinya menarikkan tanganku, seperti ajakan agar aku memeluknya lebih ketat. selebihnya, hidungku disapu kitiran rambutnya, dan mataku dapat melihat dia terpejam. matahari mulai memburatkan hangat. bayang pendek dari tubuh kami yang merapat jatuh di sisi kiri, membulat hitam. lalu kurasakan kepala gadisku menyandari pipiku. ahh, ingin sekali aku menciumnya. sayang, matanya yang memejam menjaraki keberanianku. aku lebih tertarik menikmati katupan mata dengan lentik bulu itu, dan garis bibir yang merapat sempurna. tak pernah aku sedekat ini sebelumnya. bahkan ciuman tadi, adalah keberanian yang kupaksakan. memang, aku telah memeluk dan menciumnya lewat kata-kata, juga angan.
“sebenarnya ia takut ya, apa yang kita lakukan ini sebuah dosa?” suaranya begitu dekat. aku tak melihat dia membuka mata. dan kubiarkan dia menunggu jawabanku.
“ia…”
“ya sayang…”
“ia takut ya?”
“takut apa?”
“dosa ia,” dia membuka matanya dan mencari wajahku, “ia takut kita berdosa ya?” udara dari mulutnya menyambari bibirku. beberapa kali getaran bibirnya bahkan kurasa merabai sisi bibirku. ya, ia menatapku. dan dalam posisi seperti itu, kami akan terlihat seperti orang yang berciuman.
“luruskan wajahmu sayang, nanti aku tak tahan untuk tak menciummu.”
“tapi ia jawab dong,” tuntutnya, sambil mengubah palingan.
kueratkan pelukkan. kuketatkan dadaku di pundaknya. “aku tidak takut apa-apa sayang. aku tidak sedang melindungi diri dari dosa. aku menikmati kebersamaan denganmu. aku menikmati dadaku yang mekar tiap kali berbicara denganmu. aku tidak merasa cemas sedikitpun pada kedekatan ini.” sengaja kuhentikan kata-kataku, karena angin membuat mulutku yang terbuka terkadang dimasuki ujung rambutnya.
“sayang, kamu tak merampas apa yang telah aku miliki, dan aku tak akan merampas apa yang telah kamu miliki. sayang kita, tak akan melukai orang lain, tak akan. apa yang aku takutkan? apakah itu dosa? cintaku tak merampasmu dari siapa pun. kamu tetaplah seperti apa adanya. aku hanya memiliki bagian darimu yang tidak pernah dimiliki orang lain, yang kamu bilang masih ada. apakah ini dosa, sayang?”
“aku tidak tahu ia. aku hanya tahu dadaku gemuruh. aku hanya tahu aku senang… dan aku tidak cemas atas ciuman tadi…
[aku terbangun. sialan, weker membangunkanku. pukul 2.30, oh iya, aku yang mengatur jam itu, untuk menonton bola. ahh, sialan! kapanlagi aku bermimpi begitu...]




