maafkan jika aku mulai jarang menelponmu. karena tiap kali dering itu kamu angkat, bersuara, dan ketika kutanyakan siapa yang ada di rumah –engkau selalu memberi jeda sebelum menjawab– sebuah suasana hening, yang memukulku, begitu keras, menarik lidahku untuk tak lagi mengucapkan apa pun. sepotong lanskap pun hingap: sebuah ruangan, seorang perempuan manis yang menggengam telepon, sebuah percakapan ringan, segaris senyum dan seulas tawa, yang meredup saat sebuah mata dari sudut yang lain menatap penuh tanya, juga dua pasang mata bening yang menagih janji untuk waktu mereka yang hilang siang hari.
tiap kali suara di seberang itu menyahuti teleponku, selalu lanskap itu datang: rengekan yang membuat keberanianku meredup, susut dan punah. aku tak tahu ada apa ini; lanskap itu kian menjadi, mata tombak penuh tanya itu menakutiku, dan keberanianku kian tak punya tenaga. karena saat akan kusudahi pun, wanita manis itu tak pernah meminta lebih (di matanya tak kulihat kecewa, mungkin kelegaan yang coba dia sembunyikan). ahh, pikiranku.
bagaimanakah seseorang harus bersikap, kekasih: jika kehadirannya ia sangkakan menjadi beban? haruskah ia rebah, dan meninabobokkan pikiran yang melindap terus itu, meski nyata? atau, dapatkah dia abai pada rengekan kecil yang juga menagih kebahagiaan yang sama –hasrat untuk tak diabaikan. lanskap, suasana, imaji yang berpendaran itu acap membuat aku tak jadi mengangkat telepon, meski kadang sudah terpencet nomor itu, mengirimkan dering dua atau tiga, dan kumatikan. karena dua dan tiga dering yang tak terangkat itu, mengirimkan gambaran yang sama tentang suasana yang tak dapat diganggu.
imaji itu kekasih, mungkin salah, mungkin permainan dari asosiasi pikiran yang tak tepermanai, tak menemukan ruang untuk sebentuk percakapan. tapi ia juga bisa benar, mungkin sebuah sinyal yang dikirim hati, tentang batas-batas yang dapat dan boleh ditembus. imaji mungkin sebuah lingkup yang hanya berisi kekosongan, tapi ketika dia datang dalam suasana yang tak terperkirakan, tak ada kuasa untuk bisa menolaknya sebagai sebuah “kebenaran”, keniscayaan. ia menghunjam, menjadi sebuah kesadaran, permintaan pengundurdirian!
ah– sudahlah, adalah lebih baik bagiku kini, menyediakan sekeping hati yang lebih luas, untuk menerima keterbatasan kamu, [juga keterbatasanku!], sekaligus sebagai tempat untuk menaburkan benih kenangan, menumbuhkannya, karena siapa tahu, tak akan ada lagi kenangan baru yang bisa kita buat, tak ada lagi kesempatan untuk mengulang kenangan-kenangan itu.
“selalu ada tempat untuk bertemu, dalam kenangan-kenanganmu,” kataku ketika seorang teman bersalam pisah. tak kusangka, kata-kata yang kuucapkan dulu itu, kini harus kutujukan juga untuk diriku sendiri. setidaknya, sebuah persiapan telah dimulai….
aku merasa kangen sekali. merasa…
