mimpi

Januari 14, 2006

aku mimpi. kita duduk di apa ya… kurang jelas, tapi yang pasti, kaki kita bertelanjang… dan angin cukup keras meniupi rambutmu. di depan kita hanya hamparan sawah, orang-orangan, dan matahari yang baru bangun

berkaos putih, kamu duduk membelakangiku. aku memelukmu, dan daguku sepenuhnya bersanggakan pundakmu. tanganku melingkari pinggangmu, dan ujung jariku, kamu kunci dalam genggamanmu. kita diam, lama, tak bersuara. aku hanya rasakan wajahku berkali-kali dipukuli kibaran rambutmu. selebihnya, dadaku merasai jantungmu.

lalu, kamu bercerita. bukan, bukan bercerita, tapi bertanya. ya, bertanya tapi minta cerita. ihh, bagaimana menjelaskannya. “ia, ceritakan aku tentang dosa…” [nah, itu kan bertanya tapi minta cerita. iya kan?]

“kenapa ann tanya itu?”

“ia cerita aja… biarkan aku yang bertanya.”

aku tertawa, dan mencium lehermu. [jangan marah, itu cuma mimpi] lalu aku katakan, [ini tidak sama persis, sudah 11 jam dari mimpi itu. seingat aku aja ya?] “dosa itu bagiku ukurannya rasa… kalau aku merasa tak nyaman, –takut, cemas, gugup, sakit– ketika melakukan sesuatu, aku akan menafsirkannya sebagai perbuatan yang berdosa. ukuran dosa itu, bagiku, pribadi sekali. ukuran yang dinilai oleh hatiku. jika aku tidak merasa terbebani, aku tidak mengatakan itu dosa, walaupun mungkin bagi orang lain itu dosa.”

“ia bisa beri contoh…”

“aku telah memberi contoh sebelum mengatakan itu.”

“kapan?”

“tadi”

“yang mana?” dan kau memalingkan wajahmu. kita begitu dekat, mataku dan mataku hanya dua jari.aku pasti akan mencuri cium jika kau tak cepat berpaling, kembali lurus ke matahari yang belum juga meninggi. “yang tadi? yang mana?”

“waktu aku mencium lehermu…”

engkau tercekat, kurasakan itu dari daguku yang sedikit tergetar di pundakmu. lama. lama engkau diam. aku merasakan napas yang agak panjang selain rambutmu yang dipukulkan angin ke wajahku.

“kenapa diam, ann…”

“aku nggak diam ia, aku sedang bertanya… apakah aku juga tidak cemas saat kamu sentuh leherku tadi. aku tidak diam. aku lagi berusaha kembali ke suasana tadi, untuk dapat merasakan keyakinan akan ketidakcemasan itu.”

“kamu bisa?”

“entahlah… aku tidak yakin.”

“aku bisa kok mengembalikanmu ke situasi itu lagi. dan kamu bisa tahu apakah merasa cemas atau gemas.”

“ahh ia… jangan, jang…”

tapi aku tetap menciummu, dan bahumu mengerdik, membuat bibirku kian merapat ke leher, dua inci dari tahi lalat kembarmu. “apa yang ann rasakan?” tanyaku tanpa merenggangkan jarak dari lehernya.

“dadaku ia, dadaku…”

“kenapa?”

“gemuruh…”

“gemuruh? cemas?”

“aku tidak tahu ia, tidak tahu…”

barangkali aku yang cemas, karena tanpa sadar, daguku sudah tak bersandari di pundaknya, terangkat, dan mataku mencuri samping matanya yang masih lurus ke depan. “kamu merasa cemas?” aku bertanya, suaraku menggeletar. ah, kenapa aku yang gugup?

“entahlah ia. barangkali ini cuma gemuruh. gemuruh, dan bukan cemas…”

“ohh…” lega sekali rasanya, dan daguku langsung jatuh kembali, bersanggakan gading pundaknya.

“tapi kenapa ia mengukur dosa dengan cara begitu?” dia kembali berpaling, dan karena daguku masih di pundaknya, palingan itu membuat hidungku menggoresi pipinya. nyaris kupejamkan mata, ketika kuyakin goresan itu akan berhenti di hidungnya. tapi dirimu kembali mengubah arah palingan, dan membuang napas.

“karena hanya dengan cara itu aku bisa merasa nyaman mencintaimu, sayang. hanya dengan ukuran itulah, aku dapat secara pasti tahu keinginan hatiku.”

“hanya dengan cara itu?”

“iya.”

“jadi, ini dosa bukan dalam ukuran yang pasti, ia?”

“apakah ada ukuran yang pasti, sayang? apakah ada yang lebih tahu daripada hati kita sendiri?”

kami lalu dirampas diam. kurasakan jemarinya menarikkan tanganku, seperti ajakan agar aku memeluknya lebih ketat. selebihnya, hidungku disapu kitiran rambutnya, dan mataku dapat melihat dia terpejam. matahari mulai memburatkan hangat. bayang pendek dari tubuh kami yang merapat jatuh di sisi kiri, membulat hitam. lalu kurasakan kepala gadisku menyandari pipiku. ahh, ingin sekali aku menciumnya. sayang, matanya yang memejam menjaraki keberanianku. aku lebih tertarik menikmati katupan mata dengan lentik bulu itu, dan garis bibir yang merapat sempurna. tak pernah aku sedekat ini sebelumnya. bahkan ciuman tadi, adalah keberanian yang kupaksakan. memang, aku telah memeluk dan menciumnya lewat kata-kata, juga angan.

“sebenarnya ia takut ya, apa yang kita lakukan ini sebuah dosa?” suaranya begitu dekat. aku tak melihat dia membuka mata. dan kubiarkan dia menunggu jawabanku.

“ia…”

“ya sayang…”

“ia takut ya?”

“takut apa?”

“dosa ia,” dia membuka matanya dan mencari wajahku, “ia takut kita berdosa ya?” udara dari mulutnya menyambari bibirku. beberapa kali getaran bibirnya bahkan kurasa merabai sisi bibirku. ya, ia menatapku. dan dalam posisi seperti itu, kami akan terlihat seperti orang yang berciuman.

“luruskan wajahmu sayang, nanti aku tak tahan untuk tak menciummu.”

“tapi ia jawab dong,” tuntutnya, sambil mengubah palingan.

kueratkan pelukkan. kuketatkan dadaku di pundaknya. “aku tidak takut apa-apa sayang. aku tidak sedang melindungi diri dari dosa. aku menikmati kebersamaan denganmu. aku menikmati dadaku yang mekar tiap kali berbicara denganmu. aku tidak merasa cemas sedikitpun pada kedekatan ini.” sengaja kuhentikan kata-kataku, karena angin membuat mulutku yang terbuka terkadang dimasuki ujung rambutnya.

“sayang, kamu tak merampas apa yang telah aku miliki, dan aku tak akan merampas apa yang telah kamu miliki. sayang kita, tak akan melukai orang lain, tak akan. apa yang aku takutkan? apakah itu dosa? cintaku tak merampasmu dari siapa pun. kamu tetaplah seperti apa adanya. aku hanya memiliki bagian darimu yang tidak pernah dimiliki orang lain, yang kamu bilang masih ada. apakah ini dosa, sayang?”

“aku tidak tahu ia. aku hanya tahu dadaku gemuruh. aku hanya tahu aku senang… dan aku tidak cemas atas ciuman tadi…

[aku terbangun. sialan, weker membangunkanku. pukul 2.30, oh iya, aku yang mengatur jam itu, untuk menonton bola. ahh, sialan! kapanlagi aku bermimpi begitu...]

3 Tanggapan ke “mimpi”

  1. dYtA Berkata

    dahsyattttttttttttttttttttt…. masa ada sih mimpi sepuitis itu? bagi dong mimpinya yang lain

  2. Mrs. Fortynine Berkata

    :shock:
    *pingsan*

    apa semua orang puitis mimpinya juga puitis seperti anda ya?

    ah, kok saya jadi mbayangin yang iya iya sih gara gara mbaca ini…gambarannya jelas banget siii…
    :D

  3. The Bitch Berkata

    huahahahahahahahaha!


Tinggalkan Balasan

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.