ann, debar jantungku; aku kangen kamu. aku kangen semua kebersamaan kita, hari-hari yang penuh kalimat panjang, riuh canda, penuh tautan keinginan untuk selalu bersama, saling berbagi dan mempermainkan waktu sebagai tali yang memintali kekekalan percakapan kita.
aku kangen tawamu, jerit dan marah manjamu. kangen suaramu yang masih disisai kantuk, juga jeda di antara tawa kita yang acap pecah bersama. kangen suara adek dan mbak yang “melarangmu” bicara keras dan agak jorok, juga kangen membauimu.
kapankah ulangan-ulangan kebersamaan itu bisa menjelma lagi, ann? dan mungkinkah waktu masih memberikan kembali hari-hari terbaik dalam hidupku itu? aku tahu, kamu akan menjawab, tidak. dan jika benar, itu akan menjadi kata terburuk dalam seumur hidupku.
aku kangen kamu, kangen tawamu, yang begitu menggeletarkanku, kangan semua kicaumu, yang meski hanya dua patah kata, tapi selalu mengubah hari-hariku setiap pagi. kangen dengan pertanyaan-pertanyaanmu, yang kadang tak sepenuhnya juga bisa kujawab.
ann, aku kangen kamu, kangen semuanya, semuanya…. semua-muanya!
