Arsip untuk Maret, 2006

semesta sesal

Maret 28, 2006

ann, debar jantungku: pernah kamu merasakan kesenangan dan kepedihan berjalan dalam satu waktu? kalau pernah mengalaminya, kamu akan tahu, hidup ini sungguh-sungguh adil. tak ada yang dia berikan setengah-setengah, selalu semuanya. kini kian kurasakan benar, tak ada yang dianaktirikan oleh kehidupan, semua mendapat asuhan yang sama, susu yang sama. barangkali, cuma kedewasaan saja yang berbeda. karena ketika dewasa, hidup hanya menjaga kita, hanya memelihara, dan dewasa, adalah cara bagaimana mata kita terbuka atas sebagaian slide-slide pengalaman yang hidup berikan. itu saja.

maka, jika kamu pernah merasakan kesedihan dan kegembiraan dalam satu tarikan napas, kamu akan tahu, tak pernah ada yang harus disesali dari rencana takdir. (kamu percaya takdir kan, ann?). dan kamu tak akan pernah merasa menyesal kita pernah bertemu.

ketika aku bertemu kamu, sampai pertemuan kedua dan ketiga, itulah masa ketika kepedihan dan kesenangan bersatu dalam tarikan napas. kesenangan karena aku dapat bertemu kamu, juga kepedihan, karena pertemuan itu berlangsung dalam waktu kesementaraan. kepedihan karena aku jadi tahu betapa “nyatanya” kamu lebih daripada imajiku, dan kesenangan karena pernah merasakan kenyataan itu, walau sesaat. dua-duanya, kepedihan dan kesenangan itu, datang dalam tangan yang sama, diberikan ibu kehidupan, dan aku tak pernah menyesalinya. tak akan pernah menyesalinya. (tapi, aku menangkap matamu membias beda)

ann, jika kamu masih merasa pertemuan itu memberatimu, membuatmu tak nyaman, malam nanti, ketika tidur, baliklah bantalmu. percayalah, jarum waktu akan memutar mundur, dan kita akan kembali “bersama” ketika masih bertelepon dan mengharapkan bisa bertemu. kamu bisa tak datang ke semarang, atau datanglah, tanpa pernah memberitahuku. dan kamu harus terbangun, sesudah itu, untuk melanjutkan hidupmu.

kini, kamu hanya punya ingatan –atau semacam impian– ada dua bulan dari masa depanmu yang telah kamu potong, dan itu akan lebih baik, daripada kamu menjalaninya, dengan semacam semesta sesal.

aku yakin, kamu akan lebih bahagia saat itu….

sisian napas

Maret 20, 2006

ann, debar jantungku: aku kangen kamu, malam, subuh, dan siang ini. rasanya gerah sekali menunggu “pemberitahuanmu” kapan kerjamu berakhir. tapi aku cepat tersadarkan, waktu kamu bukan hanya untukku, bukan hanya untuk mendengarkan kebawelanku, atau kangen, yang masih hanya sebatas ucapan, bukan sentuhan apalagi dekap.

sering aku berandai, tentang jarak kita yang jika dekat, tentu engkau selalu luruh kala kudekap. tapi pengandaian, ann: seperti juga kenangan, adalah temali yang menjaraki harapan dan kenyataan, juga masa silam. dan kamu ann, engkau bukan masa silamku, tak akan pernah –semoga tuhan mengizinkan– menjadi masa silamku. kamu kuinginkan menjadi kekinianku,
sisian tarikan napas, yang mengetahui apa pun, di sebalik tawa-tangisku.

ahh-, cukuplah kututup semua kalimat di atas dengan debar-debarku, yang kutak tahu, bagaimana lagi menerjemahkannya padamu.

tangan utara

Maret 8, 2006

kian hari, kian sulit aku menemukan jejakmu. peta yang dulu begitu jelas, pelan-pelan mengabur, bahkan menguning, di sudut jendela itu, ditutupi tabir pasir yang kau kirimkan dari jauh. selatan, atau utara, barat dan tenggara, muara arah hatimu dulu, kini tak kuyakini lagi, begitu samar, begitu samar. masihkan jika kulangkahkan kaki ke utara, selatan atau barat, akan menemuimu? ataukah memang dirimu berada di daerah yang tak terpetakan, tak terjangkau oleh angin sehingga kabarmu pun hanya sayup menyampai. atau adalah “daratan” lain yang menahanmu untuk mengirim berita kemari, membetahkanmu, meminjamkan mimpi panjang yang indah, yang lena, membuat lupa, pada “keberseharianmu” dulu.

aku masih selalu di sini, dengan kesabaran sempurna, menunggu sesapu angin membersihkan peta itu, sehingga terang jalan dulu, terbentuk lagi, dan selatan atau utara, barat atau timur, juga tenggara, adalah semesta arah yang berujung pada hatimu.

ah, kapan tanganmu menyentuhku?