kian hari, kian sulit aku menemukan jejakmu. peta yang dulu begitu jelas, pelan-pelan mengabur, bahkan menguning, di sudut jendela itu, ditutupi tabir pasir yang kau kirimkan dari jauh. selatan, atau utara, barat dan tenggara, muara arah hatimu dulu, kini tak kuyakini lagi, begitu samar, begitu samar. masihkan jika kulangkahkan kaki ke utara, selatan atau barat, akan menemuimu? ataukah memang dirimu berada di daerah yang tak terpetakan, tak terjangkau oleh angin sehingga kabarmu pun hanya sayup menyampai. atau adalah “daratan” lain yang menahanmu untuk mengirim berita kemari, membetahkanmu, meminjamkan mimpi panjang yang indah, yang lena, membuat lupa, pada “keberseharianmu” dulu.
aku masih selalu di sini, dengan kesabaran sempurna, menunggu sesapu angin membersihkan peta itu, sehingga terang jalan dulu, terbentuk lagi, dan selatan atau utara, barat atau timur, juga tenggara, adalah semesta arah yang berujung pada hatimu.
ah, kapan tanganmu menyentuhku?
