Arsip untuk Juli, 2006

maafkan aku

Juli 24, 2006

debar jantungku, telah kuikhlaskan engkau pergi. pergilah…

tapi, sebelum langkahmu menjauh, tolong maafkan kesalahanku. kau ingat, betapa dulu begitu susah aku menyebutkan namamu. tiga kata saja, dan begitu repot kuhapal urutannya. sungguh, aku tak tahu kenapa bisa begitu. namun percayalah, seterbalik apa pun aku menyapamu, di benakku kamu tetap indah. dengan kata apa pun lidahku menjeritkanmu, kaulah itu. ya, kamu.

aku juga sering salah mengenali suaramu, maafkanlah. kau tentu tahu, selalu kusapa mesra setiap kali operator telepon kantormu menghubungiku. kukira itu kamu, selalu kamu. sebenarnya, bukan hanya operator kantormu, nyaris setiap suara kukira kamu. terutama di hari-hari kangenku.

debar, aku bukan tak kenal warna suaramu. begitu terjajah gendang telingaku, sehingga membuat setiap gema selalu kukenali sebagai kamu. kini, setiap suara harus kusaring dua-tiga kali, sampai aku yakin, itu bukan kamu.

maafkan juga, aku yang sering menghubungimu tiba-tiba, hanya untuk mengatakan, “aku kangen kamu, kangen kamu…” percayalah, sebelum mengatakan itu, telah habis tenagaku untuk menahan gempurannya. aku kalah. jadilah, di saat-saat yang barangkali tidak kamu sangka, aku mengucapkannya. kini kusadari, betapa hal itu pasti membuatmu jengah, malu pada sekitarmu. sehingga, selalu kamu berbisik, “aku tahu, ia. aku tahu…” ucapan yang pasti membuat semua gemuruh di dadaku punah. gempa yang kehilangan tenaga.

yang utama, maafkanlah aku di pertemuan itu, karena kubiarkan waktu berjalan dalam diam. dan hanya kunikmati kamu bermain dengan ponsel, tanpa ada usaha untuk menarikmu masuk dalam arusku. tak kututupi pandanganmu yang “berjalan” pada lelaki di luarku. kubiarkan kamu bercerita tentang semuanya, tapi bukan tentang kita.

debar, aku sudah bahagia bisa bersama kamu. melihatmu, merasakan keras napasmu, melihat kau nyata, seperti keringatmu yang kuseka tanpa sengaja di punggung tanganmu. seluruh sketsa tubuhmu, yang semula hanya permainan bayang di benakku, adalah keajaiban. keajaiban itu pula yang membuatku tidak bisa melakukan apa pun, kecuali membebaskanmu, meluaskan pandanganmu. saat itu, kamulah yang memenuhi duniaku. jadi, bagaimana mungkin aku dapat menarikkanmu ke garis edarku?

aku juga pernah membuat kamu marah. ahh-, terlalu sering bahkan. ketika engkau cemas, aku seperti meringankan ketakutanmu. ketika kamu ingin berbagi, aku seperti berlari. ketika kamu menangis, aku malah memberi lelucon basi. ketika kamu cemburu, aku tak tahu. ketika aku cemburu, aku memaksamu tahu. maafkahlah semua itu… tak ada alasan pembenaran apa pun atas kebodohan itu. yang aku tahu, aku menyayangimu.

debar…, banyak sekali kebodohanku. menilasi semua kesalahan itu, aku insyaf, kamu telah menghipnotisku. dalam ketaksadaran atas pesonamu itulah aku berani mendekatkan garis takdirku, menjajarimu. kumimpikan, suatu waktu, garis itu akan menyilang, bersinggungan, nasib kita bertemu. nyatanya, kamu bergerak lebih lekas, terlepas. jadi, jika memang kau harus pergi, pergilah…. karena aku tak akan mampu menahanmu. cuma, jangan paksa aku melupakanmu. karena dengan mengingatmulah aku merasa, ada satu fase dalam hidupku yang demikian bermutu.

pergi, pergilah, debaranku. maafkan, jika aku akan tetap menjeritkanmu. karena kalau kau debar jantungku, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup tanpamu.

hujan itu indah

Juli 3, 2006

engkaukah yang datang bersama hujan ini, ann?

gerimisnya yang rintik membangunkan tidurku. pukul 01.32 dini hari. dan aku seperti mendengar ketukan di pintu belakang, juga guman, “ia, ia… bangun.”


benarkah itu engkau, ann? sungguhkah engkau datang? tapi, gegasku membuka pintu tak menemukan parasmu. hanya dingin yang menyambar, juga lengang. mataku yang mencari, menangkap tirisan air menciprati pinggiran teras, sisi keramik kotor, rumput basah, dan harum tanah. engkau tak ada.

ann, kekasih batinku, kamu di mana?

biasanya, tiap kali hujan, engkau pasti datang. aku merasakan; dingin yang semula bertandang, meredup, lalu hangat merayap. ya ann, aku menandaimu lewat hangat yang menjalari tubuhku. setiap kali tanganku menerima hujan, arus hangat merambati sel darahku. dan jika senja kamu datang, kubugili diriku segera, dan menerima pecahan dirimu menyakiti tubuhku. merasakan jarummu menitiki lembut rongga poriku. sampai aku merasa penuh, penuh…

tapi malam ini, aku merasai dingin. dan kosong. di mana engkau sembunyi, ann? di mana?

****

“datanglah ke sini, ia. hujan di kota ini indah.”

“oh ya? seindah siapa?”

“aku.”

tapi ann, tak kutemukan hujan di sini. hari-hari di kotamu seperti menanam kemarau dalam diriku. kering. keindahan yang kau janjikan, tak dapat kulihat. debu ini ann, menyakitkan. sepi itu ann, melebarkan kemarauku. apakah kau memang ingin aku tandus? tak hanya haus?

“ia, barangkali aku hujan di salah musim.”

tidak sayang, engkaulah hujan yang tak kenal musim. kuinginkan kau begitu. aku bukan kemarau, juga semi, atau salju, yang bisa memanggil atau menampikmu. aku hanya rindu pecahan dirimu mencecah tubuhku, sebagai sapa, sebagai arus dalam darahku. aku butuh kamu lebih dari kemarau di mana pun. jadi sayang, jangan hiraukan musim. datanglah, seperti yang aku pinta. musim hanya membuat jarak. musim hanya menegaskan kedatanganmu sebagai tugas. engkau itu rindu. dan rindu sayang, tak harus menunggu musim, juga waktu. bergegaslah. basahi aku. lumat aku dalam ribuan jarummu. dan kita bergelut dalam tarian purba, seperti ketika norma belum tercipta.

“tidak ia, kita hanya bisa bersisihan. memandang. kita wakafkan saja rindu pada alam. kita tebarkan kangen pada lengang. kita titipkan cinta pada harap. kita ludeskan hasrat pada senyap. aku tak bisa beranjak. waktu mengikatku pada masa lalu. engkau musimku yang kemudian, ia…”

barangkali, aku memang bukan takdirmu.

“aku tak bisa berjalan di dua takdir, ia. tak bisa.”

dan hujan itu akan pergi?

“hujan akan tetap datang.”

dan tetap indah?

“hujan itu akan selalu indah, ia. bagimu, bagiku. karena ada diri kita di dalamnya, yang jatuh serupa garis, mungkin serupa tangis.”

*****

ann kekasih, di mana kamu sembunyi? apakah aku tak harus lagi menanti? katakan padaku, kapan hujan penghabisanmu. biar kuserap pecahan dirimu, kusimpan. agar ketika engkau tak lagi datang, bisa kutumbuhkan hujan di dalam diriku. sehingga, seperti pesanmu, tetap bisa kukatakan: hujan itu indah. hujan itu indah. bahkan, ketika kau tak ada, ketika kamu mulai enggan menyapa. karena hatiku mulai percaya, kamu telah merasa aku adalah musimmu yang salah….