ini kenangan tentang buku dan ketidaksetiaan. ya, menyangkut buku aku memang tidak pernah setia. tak ada satu penulis atau pengarang pun yang kusetia sampai kini. cintaku kepada mereka selalu berubah arah, berpindah, meski kadang acap kembali. kembalinya pun sering tak lagi murni, setelah kecewa atau babak-belur dihajar pengarang-penulis lain.
aku suka membaca sejak kecil. naluri ini, awalnya aku kira, alamiah sekali. aku bisa dengan ringan mengambil sobekan koran di jalan, atau membaguskan lusuh koran bekas bungkus kacang dan belanjaan, untuk kemudian membaca. tapi kini aku sadar, “kealamiahan” itu lebih karena tekanan ekonomi, yang membuatku tak mampu membeli buku, dan bilik taksadarku merespon dengan menghargai kehadiran sobekan lusuh koran-koran itu. tak heran sehabis membaca sobekan koran itu tanganku terasa pedas, karena sebelumnya harus membersihkan sisa cabai yang masih melekati huruf-hufup di koran itu, atau tanganku bau, karena harus memindahkan dulu terasi dari bungkusnya. dan begitulah, suatu hari aku menemukan “jimat” dari sobekan itu, sebuah biografi yang manis tentang kho ping hoo. masih aku ingat, biografi itu ditulis karena ada kemungkinan karyanya banjir darah di borobudur akan disinetron-sayembara-kan. begitu tertariknya aku dengan biografi di koran waspada itu, sampai kugunting dan kuletakkan sebagai pembatas di buku sekolahku. (kelak, setelah SMP, klipingan biografi itu menjadi “jimat” di dalam lipatan dompetku).
setelah kho ping hoo, perkenalanku dengan buku “serius” dimulai. suatu malam, saat mencari obat nyamuk di atas lemari, kutemukan buku tipis. judulnya di bawah lindungan ka’bah karya hamka. kukira itu buku yang tak boleh dibaca anak kecil, karena letaknya yang di atas lemari, dan tak pernah menjadi bahan ceritaan mama kalau mendongengiku saat malam. tapi setelah aku baca dengan agak sembunyi, ceritanya tak ada yang layak disembunyikan. dan saat mama tahu aku membaca itu, dia malah menghadiahkannya untukku. “sebenarnya itu untuk ulangtahun kamu. tapi karena sudah ketahuan, ya sudah diambil saja…” kata mama.
setelah itu aku menjadi liar. perpustakaan keliling tak pernah lalai kupacari. maka aku pun berkenalan dengan katak hendak jadi lembu, tak putus dirundung malang, dan hulubalang raja dari nur sutan iskandar, tenggelamnya kapal vanderwijk, antara fakta dan khayal tuanku rao, dan kembali ke desa karya hamka. kemudian aku ingat, nyaris seluruh pujangga angkatan 1920-an telah aku baca, dari abdul muis, marah rusli, sutan takdir alisyahbana, sampai suman hs dan selasih segeurih. dan sampai aku tamat sd, aku sudah mulai tahu siapa pramudya ananta toer dan penyair-penyair lekra lainnya. tak tahu apa sebabnya, masa sekolah dasarlah aku dapat membaca khazanah sastra indonesia dengan sempurna.
smp, karena rumah yang berpindah-pindah, bacaanku tidak berkembang. aku hanya menjadi pembaca yang tunduk pada karl may dan enid bluton. petualangan winnetou di padang prairi sampai ke pelosok-pelosok balkan begitu menghipnotisku. dan kecerdasan anak-anak dalam lima sekawan, sapta siaga, dan pasukan mau tahu, mampu membuatku melupakan jam makan. tapi jangan dikira aku memiliki buku-buku itu. tidak. aku hanya membaca, dari satu perpustakaan dan atau milik teman. aku peminjam yang akut. dan perkenalanku dengan karya-karya kho ping hoo mengubah semua. mulailah terasa winnetou kalah asyik dibanding cia keng hong dalam pedang kayu harum, yang serial bukunya kalau dibentangkan bisa sepanjang dua meter. itu belum seberapa, ketika bertemu dengan suma han dalam serial pendekar super sakti, yang berlanjut sampai beberapa keturunan –berakhir di pusaka pulau es– imajinasiku terbang. serial 17 judul dengan rata-rata satu judul bisa sampai 50 jilid, membuat aku kecanduan. jika belum menamatkan, tidur pun aku terbawa dengan cerita, menebak, dan “menyelesaikannya”. kata mama, beberapa kali aku mengigau menyebutkan salah satu tokoh dalam cerita silat cina itu. dan akibatnya, aku dilarang membaca buku itu, yang membuatku bukan hanya melupakan waktu, tapi juga melepaskan salat.
tapi larangan itu membuatku tak pernah kehabisan akal. aku bahkan tak menyentuh uang jajanku dan membelanjakannya untuk menyewa kho ping hoo. berturut-turut aku tamatkan serial si pedang tumpul, rajawali sakti, tangan geledek, naga racun, sampai perawan lembah wilis. dan untuk menjaga agar mama tidak tahu, aku selalu membaca itu di jam rehat sekolah, dan di rumah, di dalam wc. ya, aku betah duduk di wc berjam-jam, hanya untuk membaca buku silat itu. dan karena seringnya aku beralasan buang air besar, akhirnya diriku pun ketahuan. dan bukan marah yang kudapat, tapi tertawaan dan julukan baru “aulia si pendekar wc”. mama akhirnya mengijinkanku terus membaca cersil itu dengan satu syarat, aku tidak lupa salat. akhirnya mereka kalah dengan si pendekar wc ini, hehehe…
ketika sma, ketertarikanku berubah arah. aku jatuh cinta pada puisi. waktu itu nyaris semua puisi si binatang jalang aku hapal, mulai puisi pertamanya “nisan”– kepada nenenda tercinta, sampai “isa”– kepada pemeluk teguh. puisi-puisi yang romatis, aku hapal habis! chairil menapasi hari-hariku. tapi kesetiaan ini tak lama. aku kemudian kenal juga dengan si presiden penyair sutardji, dan kagumku tak berkesudahan. lalu datang rendra, agam wispi, utuy tatang sontani, sitor situmorang, dan taufik ismail. namun setelah melayari semuanya, kuakui, chairil lebih kena di batinku, memahat, tinggal, berdiam. sampai kini.
dan ketika aku tamat sma, aku tak punya buku apa-apa. aku pun berlayar ke jawa, tak membawa buku apa-apa, kecuali sepotong biografi di dompetku. ya, biografi kho ping hoo di dompet muridnya, si pendekar wc ini…