lanskap

Desember 16, 2005

maafkan jika aku mulai jarang menelponmu. karena tiap kali dering itu kamu angkat, bersuara, dan ketika kutanyakan siapa yang ada di rumah –engkau selalu memberi jeda sebelum menjawab– sebuah suasana hening, yang memukulku, begitu keras, menarik lidahku untuk tak lagi mengucapkan apa pun. sepotong lanskap pun hingap: sebuah ruangan, seorang perempuan manis yang menggengam telepon, sebuah percakapan ringan, segaris senyum dan seulas tawa, yang meredup saat sebuah mata dari sudut yang lain menatap penuh tanya, juga dua pasang mata bening yang menagih janji untuk waktu mereka yang hilang siang hari.

tiap kali suara di seberang itu menyahuti teleponku, selalu lanskap itu datang: rengekan yang membuat keberanianku meredup, susut dan punah. aku tak tahu ada apa ini; lanskap itu kian menjadi, mata tombak penuh tanya itu menakutiku, dan keberanianku kian tak punya tenaga. karena saat akan kusudahi pun, wanita manis itu tak pernah meminta lebih (di matanya tak kulihat kecewa, mungkin kelegaan yang coba dia sembunyikan). ahh, pikiranku.

bagaimanakah seseorang harus bersikap, kekasih: jika kehadirannya ia sangkakan menjadi beban? haruskah ia rebah, dan meninabobokkan pikiran yang melindap terus itu, meski nyata? atau, dapatkah dia abai pada rengekan kecil yang juga menagih kebahagiaan yang sama –hasrat untuk tak diabaikan. lanskap, suasana, imaji yang berpendaran itu acap membuat aku tak jadi mengangkat telepon, meski kadang sudah terpencet nomor itu, mengirimkan dering dua atau tiga, dan kumatikan. karena dua dan tiga dering yang tak terangkat itu, mengirimkan gambaran yang sama tentang suasana yang tak dapat diganggu.

imaji itu kekasih, mungkin salah, mungkin permainan dari asosiasi pikiran yang tak tepermanai, tak menemukan ruang untuk sebentuk percakapan. tapi ia juga bisa benar, mungkin sebuah sinyal yang dikirim hati, tentang batas-batas yang dapat dan boleh ditembus. imaji mungkin sebuah lingkup yang hanya berisi kekosongan, tapi ketika dia datang dalam suasana yang tak terperkirakan, tak ada kuasa untuk bisa menolaknya sebagai sebuah “kebenaran”, keniscayaan. ia menghunjam, menjadi sebuah kesadaran, permintaan pengundurdirian!

ah– sudahlah, adalah lebih baik bagiku kini, menyediakan sekeping hati yang lebih luas, untuk menerima keterbatasan kamu, [juga keterbatasanku!], sekaligus sebagai tempat untuk menaburkan benih kenangan, menumbuhkannya, karena siapa tahu, tak akan ada lagi kenangan baru yang bisa kita buat, tak ada lagi kesempatan untuk mengulang kenangan-kenangan itu.

“selalu ada tempat untuk bertemu, dalam kenangan-kenanganmu,” kataku ketika seorang teman bersalam pisah. tak kusangka, kata-kata yang kuucapkan dulu itu, kini harus kutujukan juga untuk diriku sendiri. setidaknya, sebuah persiapan telah dimulai….

aku merasa kangen sekali. merasa…


telaga

Oktober 31, 2005

kamu ternyata manis, lebih dari yang kubayangkan. engkau bahkan lebih manis dari hujan, yang malam ini membasahi bibirku dengan jemari rintiknya yang lembut. wajahmu, juga senyum itu, ternyata lebih misterius dari matahari, yang selalu bangunkan tidurku.

tapi matamu? tuhan…, benarkan di sana ada telaga, yang menarik tanganku untuk terus masuk dan berdiam di situ? benarkan kulihat dangau di telaga itu, yang menjanjikan keteduhan kasih? sayang, pohon di samping telaga itu menyatakan satu hal: dia telah menjadi penunggu.

aku mulai kangen kamu


kidung

Oktober 27, 2005

ketika kemarin tak kutemukan sapamu di ym itu, sejagad tubuhku pun membisu. setiap kali membuka komputer dan tak kutemukan kamu di ym itu, semesta gembiraku seperti dirampas. tubuhku pun kehilangan daya, melorot, jadi ampas.

ya, jangankan kamu, aku pun mencoba untuk tak percaya, bahwa aku kehilangan kata-kata, bahwa aku bisa gagu, bisu, dan hanya tercenung. tapi demikianlah kenyataannya: aku hanya diam, menghela napas, dan kurasakan, sesuatu yang “kosong” kian membesar di dalam dadaku, kosong yang sunyi, yang tak menyisakan apa pun selain keleluasaan sebuah ruang, seperti ketika kita menatap cakrawala di tengah lapangan bola, begitu leluasa, tapi tak memberi apa-apa.

ya, selain kamu, hanya beberapa orang saja yang mengerti alamat ym ini. sebagian itu teman-teman terdekatku, yang tiap hari bertemu, sehingga kadang merasa tak perlu membuka ym untuk berkhabar, kecuali, tentu, ada hal-hal rahasia yang akan dikatakan. karena itu, membuka ym dan berharap mendapatkan hal-hal yang “ajaib” dari kamu, adalah sesuatu yang luar biasa hebat, luar biasa nikmat.

tiap kali aku membaca ym dari kamu, selalu seperti datang suara yang kian mendekat ke telingaku, suara-suara yang menyerupai kidung, meninabobokkanku, suara yang keluar dari mulut ibuku. menenangkan, melenakan, dan membuat angan juga impian, seakan mewujud, walau sesaat. tidakkan itu yang acap kita cari? karena itu, ketika email atau ym membuka, dan kau tak ada, tak ada juga suara-suara “bahagia” yang mendatangi dan menggelitik telingaku, tak ada kidung yang mencampakkanku dalam pondongan mesra seorang ibu.

aku percaya, ini hanya semacam mimpi bagimu, ingauan yang tak nyata, dan lebih sebagai sesuatu yang hiperbolis. tapi, kuyakinkan padamu, suara itu ada, datang, tiap kali aku membuka email dan ym dari kamu. suara yang semula kurasakan hanya permainan telinga, yang mungkin kurang dibersihkan. tapi akhirnya, aku tahu, suara itu adalah debaran dari jiwaku sendiri, geletar seluruh tubuh, yang demikian kerasnya, sehingga bisa ditangkap telinga.

aku pecaya, kamu pernah mengalami hal ini dalam dimensi yang lain. seperti aku, yang juga tak bisa berkata apa-apa, ketika tak menemukan kamu, dan kehilangan suara-suara di seberang telinga, yang memanduku memasuki labirin kenangan terlindah dalam kehidupan kanakku.

hari ini, aku menemukan lagi suara-suara itu, suara kamu yang bersalin rupa menjadi suara ibuku, kerinduan pada masa silam yang terpenuhi, mimpi bocah yang dikembalikan…

mengalami lagi itu, sungguh sangat membahagiakan.


takluk

September 21, 2005


ann, kamu ngerti rasanya kangen?
ya–, seperti kehilangan arah, guyah,
antara berpijak dan tidak…


komposisi kau dan aku

Agustus 26, 2005

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap

[nokturno - sapardi djoko damono]

/1/

sore yang berbeda. kau datang ke pikiranku lewat puisi-puisi sapardi, yang dinyanyikan dua-ibu: tatyana dan reda. hujan di luar. dingin. dan lagu “hujan bulan juni” –kenapa tidak gerimis saja– memberi aksentuasi nyeri pada ujung agustus ini, dengan “dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu“. akankah jejakku dihapuskan juga dari halaman hatimu?

/2/

kukenang percakapan kita. di riuh ruang maya, sms panjang, jauh tengah malam. ada yang tiba-tiba tanggal, ingatanku tentang peta yang kita pegang. “kenapa kita bertemu di separuh jalan?” kau diam. kutemani kau melangkah, dalam tawa-tangis, berharap ujung jalan ini tak ada. kita mencoba tak mengingatnya ada. tapi, sungguhkan pikiran bisa dibersihkan dari kenyataan? dan mata dari kepedihan? atau begini barangkali memang hidup harus dijalani. ““…dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya”.

/3/

barangkali, nasib kita berjalan dalam komposisi sapardi. bukankah pernah kukatakan padamu tentang hatiku yang selembar daun? kau tertawa waktu itu. kini kita tahu, memapasmu di separuh jalan, adalah menikmati kebersaatan yang menjadi abadi. ahh-, jadi ingin kuberikan lagi pada telingamu lagu ini:

“hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput.
nanti dulu, biarkan aku sejenak
berbaring di sini:
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput.
sesaat adalah abadi, sebelum kausapu
tamanmu setiap pagi”
.

aku akan mencari abadi itu, dalam sesaat. setiap pagi, siang, senja dan malam, seperti yang telah kita lakukan selama ini. jadi, tolong buang sapumu…

/4/

kau mungkin tak akan kudapat. aku hanya mengantarmu, sampai ke ujung itu. tapi, aku akan merebutmu, meski “entah kapan kau bisa kutangkap”. yang penting, aku telah melakukannya, dan itu bukan sesuatu yang sia-sia. karena aku tahu, “…cinta kita mabuk berjalan, di antara jerit bunga-bunga rekah“.


biografi membaca (2)

Agustus 19, 2005

jawa ternyata memberi segalanya. ketaksetiaanku merajalela di sini. bergaul dengan teman-teman aktivis pergerakan mahasiswa, bacaanku bertambah. dan siapa duga, pengarang-penulis yang sewaktu di sumatra hanya aku baca dan kenal namanya, satu persatu bertemu denganku, beberapa bahkan bercakap dengan mesra.

lewat seorang teman, aku mulai membaca bumi manusia pramudya, fotokopian. teman ini mewanti-wanti agar aku membaca dengan sembunyi. “Jika tidak, kamu akan dicap pki,” katanya. hanya semalam, buku itu aku tamatkan. dan aku ketagihan. kucari-cari karya pram yang lain, tapi tak pernah bisa menjumpai. buku-bukunya terlarang. kemudian, dengan bantuan teman lagi yang kekasihnya berayahkan seorang atase di malaysia, aku memberanikan diri memesan buku pram, edisi malaysia. karena dengan memakai tas diplomatik-lah (diplomatic bag) karya pram bisa sampai di indonesia tanpa kesukaran. aku mendapatkan semua tetralogi itu, bumi manusia, anak segala bangsa, jejak langkah, dan rumah kaca, dan melahapnya tanpa kesukaran, karena secara bahasa tak ada perbedaan mendasar meskipun karya itu terbit di malaysia. aku jatuh cinta pada minke, nyi ontosoroh, dan pram.

takdir menarikku untuk bertemu dengan pram, di saat justru pengarang ini masih menjadi sosok yang “menakutkan” bagi orde baru. menemuinya di multi karya pun harus sembunyi-sembunyi. padahal, orang yang akan kutemui itu asyik membakar sampah, bersarung, bertelanjang dada. “saya mungkin dianggap musuh bagi negara. tapi semua tetangga di sini menerima saya, tak ada cemas dan was-was,” katanya sembari menghembuskan djarum yang lucunya, berlogokan istana negara.

pram punya ingatan yang luar biasa. bertemu kali pertama, kuhabiskan waktu nyaris seharian untuk berbicara, dan wawancara tentang sastra. kusempatkan juga mengiyakan tawaran makan siang bersama, dan mandi sore di kamar atas, ruang kreatifnya. dia bercerita sejarah bahasa indonesia, sejarah islam, dan tentu, “dendamnya” pada penguasa. kupingnya yang pekak membuat kami bercerita setengah berteriak. ketika menunjukkan koleksi bukunya, terutama koran-koran berusia 200 tahun, aku terhenyak. “sewaktu saya diciduk, ribuan buku saya raib, termasuk tumpukan naskah ensklopedia indonesia, yang nyaris setinggi 2 meter. ketika diseret, hanya naskah-naskah itu yang saya pikirkan. sempat saya katakan kepada serdadu yang memimpin pencidukan itu, ‘tolong selamatkan naskah saya…’ tapi dia hanya tertawa. sampai kini, naskah itu tak pernah kembali. negara berhutang banyak pada saya…” katanya, marah. sebelum pamit, dia menghadiahiku beberapa buku, majalah, dan menandatangani tetralogi itu, dengan pesan, “jangan pernah takut!”

aku bertemu lagi dengannya beberapa kali. lucunya, setelah orde baru jatuh, dan orang bebas menemui dia tanpa lagi rasa takut, aku tak pernah bersua. padahal, ingin rasanya melihat rumah mewahnya di bojonggede, dan hutan kecil, yang selalu dia angankan menjadi kesibukannya selain menimang cucu.

pengarang-pengarang lain kemudian seperti dikirimkan alam untuk bertemu denganku. berbincang dan kediskotek bersama seno gumira ajidarma, ngobrol dan menjawili ciblek simpanglima bersama sutadji calzoem bahri, ngakak-ngakak dengan goenawan muhammad, kho ping hoo, sapardi, ayu utami, soeman hs, sitok srengenge, nirwan dewanto, ratna sarumpaet, afrizal malna, dan puluhan pengarang lain, adalah kebahagiaan yang tak pernah kuduga mendatangiku. percakapan penuh kagum dengan mereka saat itulah yang membuatku bertekat untuk mulai mempunyai perpustakaan pribadi.

dan syukurlah mimpi kecil itu terwujud. pelan-pelan, kukumpulkan buku dari uang jajan dan honor menulis di majalan-majalah remaja. sehingga saat mengerjakan skripsi tak harus ke perpustakaan kampus atau daerah, dan tak meminjam buku dari teman. di kamar-bacaku semula tersimpan lengkap tulisan lenin dalam 32 buku. sayang, banjir yang kejam sewaktu aku ke luar kota, menyisakan 8 buku dari koleksi buku bertahun 60-an itu. banjir yang marah juga memakan koleksi majalan tempo-ku sejak tahun 1982, matra, jakarta-jakarta, dan tiara, hanya menyisakan beberapa saja. namun aku masih bersyukur, meski telah dilahapi banjir, kini nyris 2000 buku mendiami kamar-baca di rumahku. buku-buku yang tak pernah membuatku kesepian, tak pernah membuatku merasa kehilangan teman…


biografi membaca (1)

Agustus 11, 2005

ini kenangan tentang buku dan ketidaksetiaan. ya, menyangkut buku aku memang tidak pernah setia. tak ada satu penulis atau pengarang pun yang kusetia sampai kini. cintaku kepada mereka selalu berubah arah, berpindah, meski kadang acap kembali. kembalinya pun sering tak lagi murni, setelah kecewa atau babak-belur dihajar pengarang-penulis lain.

aku suka membaca sejak kecil. naluri ini, awalnya aku kira, alamiah sekali. aku bisa dengan ringan mengambil sobekan koran di jalan, atau membaguskan lusuh koran bekas bungkus kacang dan belanjaan, untuk kemudian membaca. tapi kini aku sadar, “kealamiahan” itu lebih karena tekanan ekonomi, yang membuatku tak mampu membeli buku, dan bilik taksadarku merespon dengan menghargai kehadiran sobekan lusuh koran-koran itu. tak heran sehabis membaca sobekan koran itu tanganku terasa pedas, karena sebelumnya harus membersihkan sisa cabai yang masih melekati huruf-hufup di koran itu, atau tanganku bau, karena harus memindahkan dulu terasi dari bungkusnya. dan begitulah, suatu hari aku menemukan “jimat” dari sobekan itu, sebuah biografi yang manis tentang kho ping hoo. masih aku ingat, biografi itu ditulis karena ada kemungkinan karyanya banjir darah di borobudur akan disinetron-sayembara-kan. begitu tertariknya aku dengan biografi di koran waspada itu, sampai kugunting dan kuletakkan sebagai pembatas di buku sekolahku. (kelak, setelah SMP, klipingan biografi itu menjadi “jimat” di dalam lipatan dompetku).

setelah kho ping hoo, perkenalanku dengan buku “serius” dimulai. suatu malam, saat mencari obat nyamuk di atas lemari, kutemukan buku tipis. judulnya di bawah lindungan ka’bah karya hamka. kukira itu buku yang tak boleh dibaca anak kecil, karena letaknya yang di atas lemari, dan tak pernah menjadi bahan ceritaan mama kalau mendongengiku saat malam. tapi setelah aku baca dengan agak sembunyi, ceritanya tak ada yang layak disembunyikan. dan saat mama tahu aku membaca itu, dia malah menghadiahkannya untukku. “sebenarnya itu untuk ulangtahun kamu. tapi karena sudah ketahuan, ya sudah diambil saja…” kata mama.

setelah itu aku menjadi liar. perpustakaan keliling tak pernah lalai kupacari. maka aku pun berkenalan dengan katak hendak jadi lembu, tak putus dirundung malang, dan hulubalang raja dari nur sutan iskandar, tenggelamnya kapal vanderwijk, antara fakta dan khayal tuanku rao, dan kembali ke desa karya hamka. kemudian aku ingat, nyaris seluruh pujangga angkatan 1920-an telah aku baca, dari abdul muis, marah rusli, sutan takdir alisyahbana, sampai suman hs dan selasih segeurih. dan sampai aku tamat sd, aku sudah mulai tahu siapa pramudya ananta toer dan penyair-penyair lekra lainnya. tak tahu apa sebabnya, masa sekolah dasarlah aku dapat membaca khazanah sastra indonesia dengan sempurna.

smp, karena rumah yang berpindah-pindah, bacaanku tidak berkembang. aku hanya menjadi pembaca yang tunduk pada karl may dan enid bluton. petualangan winnetou di padang prairi sampai ke pelosok-pelosok balkan begitu menghipnotisku. dan kecerdasan anak-anak dalam lima sekawan, sapta siaga, dan pasukan mau tahu, mampu membuatku melupakan jam makan. tapi jangan dikira aku memiliki buku-buku itu. tidak. aku hanya membaca, dari satu perpustakaan dan atau milik teman. aku peminjam yang akut. dan perkenalanku dengan karya-karya kho ping hoo mengubah semua. mulailah terasa winnetou kalah asyik dibanding cia keng hong dalam pedang kayu harum, yang serial bukunya kalau dibentangkan bisa sepanjang dua meter. itu belum seberapa, ketika bertemu dengan suma han dalam serial pendekar super sakti, yang berlanjut sampai beberapa keturunan –berakhir di pusaka pulau es– imajinasiku terbang. serial 17 judul dengan rata-rata satu judul bisa sampai 50 jilid, membuat aku kecanduan. jika belum menamatkan, tidur pun aku terbawa dengan cerita, menebak, dan “menyelesaikannya”. kata mama, beberapa kali aku mengigau menyebutkan salah satu tokoh dalam cerita silat cina itu. dan akibatnya, aku dilarang membaca buku itu, yang membuatku bukan hanya melupakan waktu, tapi juga melepaskan salat.

tapi larangan itu membuatku tak pernah kehabisan akal. aku bahkan tak menyentuh uang jajanku dan membelanjakannya untuk menyewa kho ping hoo. berturut-turut aku tamatkan serial si pedang tumpul, rajawali sakti, tangan geledek, naga racun, sampai perawan lembah wilis. dan untuk menjaga agar mama tidak tahu, aku selalu membaca itu di jam rehat sekolah, dan di rumah, di dalam wc. ya, aku betah duduk di wc berjam-jam, hanya untuk membaca buku silat itu. dan karena seringnya aku beralasan buang air besar, akhirnya diriku pun ketahuan. dan bukan marah yang kudapat, tapi tertawaan dan julukan baru “aulia si pendekar wc”. mama akhirnya mengijinkanku terus membaca cersil itu dengan satu syarat, aku tidak lupa salat. akhirnya mereka kalah dengan si pendekar wc ini, hehehe…

ketika sma, ketertarikanku berubah arah. aku jatuh cinta pada puisi. waktu itu nyaris semua puisi si binatang jalang aku hapal, mulai puisi pertamanya “nisan”– kepada nenenda tercinta, sampai “isa”– kepada pemeluk teguh. puisi-puisi yang romatis, aku hapal habis! chairil menapasi hari-hariku. tapi kesetiaan ini tak lama. aku kemudian kenal juga dengan si presiden penyair sutardji, dan kagumku tak berkesudahan. lalu datang rendra, agam wispi, utuy tatang sontani, sitor situmorang, dan taufik ismail. namun setelah melayari semuanya, kuakui, chairil lebih kena di batinku, memahat, tinggal, berdiam. sampai kini.

dan ketika aku tamat sma, aku tak punya buku apa-apa. aku pun berlayar ke jawa, tak membawa buku apa-apa, kecuali sepotong biografi di dompetku. ya, biografi kho ping hoo di dompet muridnya, si pendekar wc ini…


Dua Hari Lagi

Agustus 9, 2005

maaf, tunggu dua hari lagi ya? barangkali sudah ada remah-remah hari yang dapat dicatat di sini, hal-hal kecil yang mungkin layak dikenang, untuk menghentikan waktu. dan jika pun tidak ada, ya bisa apa? bukankah hidup juga tidak bisa sepenuhnya dinisbatkan untuk menakzimi kenangan?